( ADAB BERPAKAIAN, BERHIAS, SAFAR, BERTAMU )
ETIKA DALAM KEHIDUPAN
Sesungguhnya Rasulullah di utus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.
Sikap rasulullah menunjukkan sikap yang agung, sejak masih
kanak-kanak sikap tersebut dimiliki oleh Rasulullah Saw sehingga beliau
diberi gelar AL-AMIN (yang dapat dipercaya). Tidak ada yang dapat
melebihi keagungan sikap rasulullah saw, beliau lmebut dalam berbicara,
tidak menggunjing orang, tidak melakukan bahtah dan selalu berkata yang
benar, bila berjalan tidak menengadah ke atas melainkan tunduk ke bumi,
berjalan cepat laksana orang yang sedang berkesungguhan, beliau menjadi
bapak para anak-anak yang yatim piatu, menyayangi yang lemah, membantu
yang kekurangan walaupun beliau sendiri hidup seadanya , tidak hidup
mewah padahal beliau selain pemimpin agama juga pemimpin Negara yang
layak untuk hidup mewah, rasulullah selalu berlaku di atas WAHYU
(perintah allah swt). Oleh karena itu kita sebagai umat-nya hendaknya
menjadikan beliau sebagai suri tauladan yang baik, karena ahlak yang
baik adalah akhlak atau sikap yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad
Saw, yaitu akhlak yang bersesuaian dengan al qur’an.
Atheis selalu menyebutkan bahwa Rasulullah Saw adalah : Perampok, Pembunuh sadis, dan tukang nikah !!
Bagaimana pembelaan anda terhadap Rasulullah Saw atas ketiga jenis Tuduhan atheis tersebut !
BERPAKAIAN
Allah SWT berfirman: “Hai anak Adam, sesungguhnya
kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan
pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa, itulah yang paling
baik. (QS.Al A’raaf,7:26)
1. Wajib Untuk Menutup Aurat : Hai anak Adam, sesungguhnya kami
telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian
indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa, itulah yang paling baik.”
(QS.Al A’raaf,7:26)
Muhammad saw. Bersabda : ”Tidak diperbolehkan bagi laki-laki untuk
melihat aurat laki-laki lain, dan perempuan untuk melihat aurat
perempuan lain. Dan tidak seharusnya laki-laki tidur satu selimut
dengan laki-laki lain dan perempuan tidur satu selimut dengan
perempuan lain.” (Muslim 338, Musnad Imam Ahmad 11207, Tirmidzi 2973)
Ø Aurat adalah bagian dari tubuhmu yang harus ditutupi. Asma’
datang mengunjungi Aisyah (saudara perempuannya), dia mengenakan
pakaian yang tipis dari kepala hingga lututnya, kemudian Rosulullah
saw. bersabda, : ”Wahai Asma’ ketika seorang wanita mencapai baligh,
tidaklah diperbolehkan untuk menampakkan sesuatu apapun kecuali ini
dan ini (Beliau menunjuk pada muka dan tangannya)”
Rosulullah saw”Ada 2 golongan ahli neraka yang aku belum pernah
melihatnya yaitu suatu kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi yang
dipukulkan kepada manusia, dan perempuan yang berpakaian (tetapi
hakekatnya) telanjang, (jalannya) lenggang-lenggok, kepala mereka
seperti ponok onta yang miring. Mereka adalah ahli neraka.”
Allah swt. berfirman:
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman:”Hendaklah mereka
menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu
adalah yang lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui
apa yang mereka perbuat”.(QS.An Nur,24:30)
2. Dilarang Untuk Meniru Lawan Jenis
”Rosulullah saw. melaknat laki-laki yang menjadi wanita dan wanita yang menjadi laki-laki”. Ada hadits yang mengatakan, :
3. Dianjurkan Untuk Memperlihatkan Ni’mat Yang Telah Diberikan Allah Dalam Pakaianmu
Dianjurkan untuk memperlihatkan rasa syukurmu dalam pakaianmu
dengan cara yang baik, yang menunjukkan kebaikan Allah yang telah
dilimpahkan atas dirimu.
4. Dilarang mengenakan pakaian secara sombong
5. Dilarang Untuk Memakai Pakaian Yang Menjadi Sorotan/Pusat Perhatian
Rosulullah saw. ”Siapa saja yang mengenakan pakaian yang membikin
heboh di dunia, maka Allah akan memberinya pakaian yang menghinakan
kelak di hari kiamat”. (Musnad Imam Ahmad 5631, Abu Dawud 4029)
Ø Dilarang untuk menyerupai orang-orang yang menyimpang/sesat
Ø Dilarang mengenakan pakaian yang menyebabkan seseorang menjadi heboh dengan memakainya
6. Dilarang Bagi Laki-Laki Untuk Mengenakan Emas atau Sutra
Dilarang bagi laki-laki untuk mengenakan emas dan sutra tanpa illat
(sebab syar’i) dan diperbolehkan bagi wanita untuk mengenakannya
tanpa sebab. Dilarangnya bagi laki-laki dengan pertimbangan:
v Karena istilah pakaian/ sesuatu yang dikhususkan dipakai oleh wanita
v Laki-Laki adalah orang yang melindungi istri, itulah kenapa
mereka (para wanita) mengenakan emas dan bahan-bahan seperti sutra,
sedang laki-laki tidak mengenakannya karena dia adalah orang yang
melindungi si pemakainya.
Rosulullah saw. Bersabda : ”Barangsiapa yang mengenakan sutra di
dunia, maka tidak aan memakainya di hari akherat kelak”.(Muslim 2074).
7. Dilarang Bagi Wanita Untuk Menampakkan Perhiasannya Kecuali
Kepada Siapa Saja Yang Diizinkan Allah Melihatnya, Pengecualiannya Ada
Dalam Ayat.
8. Memukulkan Kakinya Agar Diketahui Adalah Aurat
“…Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan”.(QS.An Nur,24:31)
9. Tidak riya
Adab Memakai Sendal
Larangan Hanya Memakai Satu Sandal |
Suatu kejadian terdapat di dalam Mini Bus Alexandria : Masuklah
seorang wanita dengan berpakain minim termasuk ROK MINI duduk di dekat
orang yang sudah tua. Orang tua berkata “ Pakaian mu terlalu seronok,
tidak baik bagi wanita berpakaian seperti itu“
Lalu si wanita berkata dengan marah ….” TOLONG BAPAK TUA AMBIL HAND
PHONE SAYA LALU PESANKAN KEPADA TUHAN SUATU TEMPAT DI NERAKA UNTUK SAYA
NANTI…”. Orang tua lalu istigfar….. berkali-kali.
Sewaktu orang mau turun terhalang oleh wanita tadi…. Ternyata si wanita sudah mati di mobil Mikro Mini Alexandria.
ADAB BERHIAS
1. Berhiaslah serapi mungkin dan wajar bagi suami untuk istrinya dan
istri untuk suaminya, bukan untuk yang lain. Jangan berlebihan, ingat
bahwa perhiasan yang paling indah adalah wajah ceriah dengan senyum
ramah dari hati yang tulus.
2. Haram hukumnya memasang tato, menipiskan bulu alis, memotong gigi
supaya cantik dan menyambung rambut (bersanggul). Rasulullah bersabda,
“Allah melaknat wanita pemasang tato dan yang minta ditato, wanita yang
menipiskan bulu alisnya dan yang meminta ditipiskan dan wanita yang
meruncingkan giginya supaya kelihatan cantik, mengubah ciptaan Allah.”
Dan, “Allah melaknat wanita yang menyambung rambutnya.” (Muttafaq
’alaih).
3. Laki-laki, aturlah rambut, potonglah atau sisirlah, jangan menggelung maupun mengikatnya waktu sedang sholat.
4. Panjangkan dan rapikan jenggot, potong dan rapikan kumis.
5. Silakan menyemir rambut, namun jangan menggunakan warna hitam.
6. Gunakan celak mata dengan bilangan ganjil untuk kesehatan saja.
7. Bagi wanita gunakan bedak dan alat kosmetik lainnya yang wajar,
sederhana yang sesuai dengan keadaan kulit. Jangan menggunakan yang
mewah, tidak sesuai dengan keadaan kulit, apa lagi yang berbahaya karena
mengandung bahan yang merusak meskipun bentuknya sangat menarik.
8. Bercerminlah dengan membaca do’a: “Ya Allah sebagaimana telah Engkau perindah bentukku maka perindahlah akhlakku”.
9. Jangan memanjangkan kuku, bagi laki-laki maupun wanita, sebab
memotong kuku tiap hari jum’at adalah sunnah para Nabi dan Rosul.
10. Begitu pula gigi dan mata jagalah selalu kebersihannya, jangan sampai tetap melekat sisa makanan atau sesuatu lainnya.
11. Ingatlah bahwa Rasulullah suka bersiwak di setiap berwudhu, akan
sholat, masuk rumah, bangun dari tidur, dan setiap terasa bau mulut
berubah.
ADAB SAFAR (BEPERGIAN JAUH)
A. Sebelum Safar
1. Niatlah bersafar, bila anda sedang berpuasa maka niatlah berbuka,
jika harus berbuka terlebih dahulu sebelum berangkat maka itupun boleh.
2. Beristikharahlah terlebih dahulu kepada Allah mengenai rencana
safar anda itu, dengan shalat dua raka`at kemudian berdo`a dengan do`a
istikharah.
3. Bertobatlah dari segala kemaksiatan dan mohonlah ampun kepada Alloh dari segala dosa yang telah diperbuat.
4. Kembalikan barang-barang pinjaman dan amanat-amanat kepada yang
berhak, bayarlah hutang dan berpesanlah kebaikan kepada keluarga dan
do’akan: “Aku menitipkan kamu kepada Allah yang tidak akan hilang
titipan-Nya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
5. Sedangkan yang ditinggal menjawab dengan do’a: “Aku menitipkan
agamamu, amanatmu dan perbuatanmu yang terakhir kepada Alloh, semoga
Alloh memberi bekal taqwa kepadamu, mengampuni dosamu dan memudahkan
kebaikan kepadamu di mana saja kamu berada.” (HR. At-Tirmidzi)
6. Bawalah perbekalan secukupnya, seperti air, makanan dan uang.
Janganlah membawa lonceng atau anjing karena tidak disukai malaikat (HR.
Muslim no.; 2113, 2114 dll)
7. Carilah teman yang shalih dalam perjalanan. Bagi perempuan
pergilah dengan mahramnya. Rasulullah bersabda, “Kalau sekiranya manusia
mengetahui apa yang aku ketahui di dalam kesendirian, niscaya tidak ada
orang yang menunggangi kendaraan (musafir) yang berangkat di malam hari
sendirian.” (HR. Al-Bukhari).
8. Angkatlah salah satu dari anda sebagai pemimpin (amir). Rasulullah
bersabda, “Apabila tiga orang keluar untuk safar, maka hendaklah mereka
mengangkat seorang pemimpin di antara mereka.” (HR. Abu Daud dan
dishahihkan oleh Al-Albani).
B. Saat Safar
1. Berangkatlah safar pada pagi (dini) hari atau sore hari.
Rasulullah bersabda, “Ya Allah, berkahilah bagi ummatku di dalam
kediniannya.” Dan juga bersabda, “Hendaknya kalian memanfaatkan waktu
senja, karena bumi dilipat di malam hari.” (HR. Abu Daud)
2. Ucapkan selamat tinggal kepada keluarga, kerabat dan teman-teman.
Sebagaimana sabda Rasulullah, “Aku titipkan kepada Allah agamamu,
amanatmu dan penutup-penutup amal perbuatanmu.” (HR. At-Tirmidzi)
3. Baca basmalah; dan apabila telah berada di atas kendaraan
bertakbirlah tiga kali, kemudian baca do’a safar berikut ini: “Maha Suci
Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami
sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali
kepada Tuhan kami; Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepadamu di dalam
perjalanan kami ini kebajikan dan ketaqwaan, dan amal yang Engkau
ridhai; Ya Allah, mudahkanlah perjalanan ini bagi kami dan dekatkanlah
jaraknya; Ya Allah, Engkau adalah Penyerta kami di dalam perjalanan ini
dan Pengganti kami di keluarga kami; Ya Allah, sesungguhnya aku
berlindung kepada-Mu dari bencana safar dan kesedihan pemandangan, dan
keburukan tempat kembali pada harta dan keluarga.” (HR. Muslim).
C. Di Tengah Safar
1. Bertakbirlah di saat jalan menanjak dan bertasbihlah di saat
menurun. Sahabat Jabir menuturkan, “Apabila (jalan) kami menanjak, maka
kami bertakbir, dan apabila menurun maka kami bertasbih.” (HR.
Al-Bukhari).
2. Berdo’alah selalu di tengah perjalanan, karena do’a musafir itu mustajab (mudah dikabulkan) dan perbanyaklah sedekah.
3. Apabila beristirahat carilah tempat yang aman jauh dari jalan;
karena Rasulullah bersabda, “Apabila kamu hendak mampir untuk
beristirahat, maka menjauhlah dari jalan, karena jalan itu adalah jalan
binatang melata dan tempat tidur bagi binatang-binatang di malam hari.”
(HR. Muslim).
4. Selama Safar gunakanlah waktu dengan sebaik-baiknya.
5. Jagalah shalat dengan baik termasuk jamak dan qosornya.
6. Segera kembalilah ke kampung halaman setelah menunaikan keperluan.
Abu Hurairah menyebutkan, “… Apabila salah seorang kamu telah
menunaikan hajatnya dari safar yang dia lakukan, maka segeralah ia
kembali ke kampungnya.” (Muttafaq ’alaih)
D. Setelah Safar
1. Apabila kembali ke kampung halaman jangan masuk ke rumah di malam
hari, kecuali jika sebelumnya anda memberi tahu terlebih dahulu. Jabir
menuturkan, “Nabi melarang seseorang mengetuk rumah (membangunkan)
keluarganya di malam hari.” (Muttafaq ’alaih)
2. Di saat datang singgahlah di masjid terlebih dahulu, shalatlah dua
rakaat. Ka`ab bin Malik meriwayatkan: “Bahwasanya Nabi apabila datang
dari perjalanan (safar), maka beliau langsung menuju masjid dan di situ
beliau shalat dua raka`at.” (Muttafaq ’alaih)
3. Berdo’alah, “Orang-orang yang kembali, bertobat, mengabdi kepada Tuhan kami selalu memuji” (HR. Bukhari dan Muslim)
ADAB BERTAMU
Adab-adab Bertamu dalam Islam
1. Beri’tikad Yang Baik
2. Tidak Memberatkan Bagi Tuan Rumah
3. Memilih Waktu Berkunjung
4. Meminta Izin Kepada Tuan Rumah DENGAN CARA SALAM 3 X
5. Mengenalkan Identitas Diri
6. Menyebutkan Keperluannya
7. Segera Kembali Setelah selesai Urusannya
8. Mendo’akan Tuan Rumah
Tatkala seseorang hendak berkunjung ke rumah seseorang !! lalu
membaca salam 3x akan tetapi tidak terdengar olehnya jawaban dari dalam
rumah, padahal si tuan rumah ada di dalam rumah.
Bagaimana menurut pendapat ANDA tentang kejadian tersebut ? Tinjauan
dari berbagai segi, termasuk dari segi kemanusiaan, segi hukum, segi hak
atau kewajiban dan lain-lain.
UNTUK TAMU:
- Hendaknya memenuhi undangan dan tidak terlambat darinya kecuali ada
udzur/halangan, karena hadits Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam
mengatakan:
“Barangsiapa yang diundang kepada walimah atau yang serupa, hendaklah ia memenuhinya”. (HR. Muslim).
- Hendaknya tidak membedakan antara undangan orang fakir dengan
undangan orang yang kaya, karena tidak memenuhi undangan orang faqir itu
merupakan pukulan (cambuk) terhadap perasaannya. Ini berarti Islam
secara NYATA mengajarkan bahwa tidak ada perbedaan manusia, kecuali
dalam hal takwa.
- Apabila kita sedang berpuasa sekalipun, diharapkan hadir. Ada
hadits yang bersumber dari Jabir Radhiallaahu anhu menyebutkan
bahwasanya Rasululloh SAW bersabda:
”Barangsiapa yang diundang untuk
jamuan sedangkan ia berpuasa, maka hendaklah ia menghadirinya. Jika ia
suka makanlah dan jika tidak, tidaklah mengapa
- Jangan terlalu lama menunggu di saat bertamu karena ini memberatkan
yang punya rumah juga jangan tergesa-gesa datang karena membuat yang
punya rumah kaget sebelum semuanya siap.
Bertamu tidak boleh lebih dari tiga hari, kecuali kalau tuan rumah memaksa untuk tinggal lebih dari itu.
- Hendaknya pulang dengan hati lapang dan memaafkan kekurang apa saja yang terjadi pada tuan rumah.
- Hendaknya mendo`akan untuk orang yang mengundangnya seusai menyantap hidangannya. Dan di antara do`a yang ma’tsur adalah :
“Orang yang berpuasa telah berbuka puasa padamu. dan orang-orang
yang baik telah memakan makananmu dan para malaikan telah bershalawat
untukmu”. (HR. Abu Daud, dishahihkan Al-Albani).
“Ya Allah, ampunilah mereka, belas kasihilah mereka, berkahilah
bagi mereka apa yang telah Engkau karunia-kan kepada mereka. Ya Allah,
berilah makan orang yang telah memberi kami makan, dan berilah minum
orang yang memberi kami minum”.
- Tidak Mengintai Ke Dalam Bilik. Jika kita hendak bertamu dan telah
sampai di halaman rumah, tidak diizinkan mengintip melalui jendela atau
bilik, walaupun tujuannya ingin mengetahui penghuninya ada atau tidak.
Tindakan ini sangat dilarang dan mempunyai ancaman yang sangat keras.
Hadits di bawah ini menjelaskan hal tersebut:
TUAN RUMAH:
- Jangan hanya mengundang orang-orang kaya untuk jamuan dengan mengabaikan/melupakan orang-orang fakir. Rasululloh SAW bersabda:
“Seburuk-buruk
makanan adalah makanan pengantinan (walimah), karena yang diundang
hanya orang-orang kaya tanpa orang-orang faqir.” (Muttafaq’ alaih).
- Undangan jamuan hendaknya tidak diniatkan berbangga-bangga dan
berfoya-foya, akan tetapi niat untuk mengikuti sunnah Rasululloh SAW dan
membahagiakan teman-teman sahabat, ataupun syukuran dalam rangka
bersyukur atas nikmat yang telah diberikan ALLOH SWT.
- Tidak memaksa-maksakan diri untuk mengundang tamu. Di dalam hadits Anas Radhiallaahu anhu ia menuturkan:
“Pada suatu ketika kami ada di sisi Umar, maka ia berkata: “Kami dilarang memaksa diri” (membuat diri sendiri repot).” (HR. Al-Bukhari)
- Jangan anda membebani tamu untuk membantumu, karena hal ini bertentangan dengan kewibawaan.
- Jangan menampakkan kejemuan/kebosanan terhadap tamu, tetapi
tunjukkanlah kegembiraan dengan kahadiran tamu tersebut, diantaranya
dengan cara bermuka manis dan berbicara ramah.
- Hendaklah segera menghidangkan makanan untuk tamu, karena yang demikian itu berarti menghormatinya.
- Jangan tergesa-gesa untuk mengangkat makanan (hidangan) sebelum tamu selesai menikmati jamuan.
***ini juga terkait dg poin di atas. Jika buru-buru membereskan hidangan, kesannya mengusir tamu…hehehe…***
- Disunnatkan mengantar tamu hingga di luar pintu rumah. Ini menunjukkan penerimaan tamu yang baik dan penuh perhatian.
sumber: http://ahmadfauzani.wordpress.com/materi-akhlak-terpuji/